All posts by Enaliya

writer, editor, translator and graphic designer

Roscoe

Sejak lama saya tidak pernah berencana mempunyai binatang peliharaan. Bukan tidak kepengen mempunyai makhluk lucu berkeliaran di dalam rumah. Tetapi lebih karena menghindari tanggung jawab untuk memelihara. Timbal-balik yang wajar kan, menikmati kesenangan lalu menunaikan kewajiban…

Namun suatu hari di bulan Juni, seekor kucing kecil ditinggalkan seseorang di depan pintu. Warnanya ginger, mengeong lemah. Gary menghangatkan semangkuk kecil susu dan ia melahapnya. Beberapa minggu kemudian, ia sudah bisa makan wet food dan dry food.

Ia berkeliaran di depan rumah dan bersembunyi di balik tanaman pagar. Ada beberapa kucing lain yang kadang datang juga. Biasanya kami juga memberi mereka dry food.

Kadang-kadang Gary mengajaknya masuk dan membelai-belainya. Kalau saya ada banyak kesibukan di luar, Gary dan Roscoe, begitu kucing ini kemudian diberi nama, tampak banyak menghabiskan waktu bersama.

Kalau kami berdua pergi bersama, misalnya harus ke rumah sakit untuk terapi Gary. Kami tinggalkan di luar rumah dan ketika kami kembali ia sudah menunggu di depan pintu.

Suatu saat ketika kami kembali, saya tidak dapat menemukannya. Saya panggil-panggil dengan trik memanaskan susu di microwave yang biasanya membuat dia muncul. Tetapi sunyi-sepi, Roscoe tidak kembali.

Sehari, dua hari, alangkah sedih membayangkan kalau ada sesuatu terjadi pada dia. Kami berdua berbincang, mengharap si kecil baik-baik saja. Semoga sehat dan memang lebih bahagia menjadi kucing jalanan.

Tetapi jalan ceritanya tidak demikian, pada hari keempat, Roscoe kembali. Dan dia lebih suka di dalam rumah. Kelihatan sedih kalau kami keluarkan, karena kami harus keluar rumah. Diapun mulai mengencingi keset handuk di dapur, tentu karena ada di dalam rumah seharian, dia harus kencing.

Saya sangat marah, saya keluarkan dia dan menaruh keset basah di mukanya, dan menjentik kupingnya. Semoga dia merasa bersalah, karena saya pun merasa bersalah setelah melakukan itu.

Saya dan Garypun sepakat kita harus memfasilitasinya dengan litter box. Kemudian juga memanggil dokter hewan untuk pemeriksaan dan vaksin. Resmilah ia menjadi kucing peliharaan kami. ***

Gary and Roscoe

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Kemoterapi

Every day I think what a fascinating and amusing adventure this is! With all that, why should I despair?” –3rd May, 1944, ‘Diary of A Young Girl’.

Mungkin terlalu berlebihan kalau saya membandingkan diri dengan Anne Frank. Namun untuk tidak menjadi “drama queen”, boleh dong kalo saya bilang apa yang saya alami tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Anne Frank. Kalau cara saya menjalani hari-hari penuh tantangan ini, seperti Anne, menjalaninya sebagai petualangan dan tidak perlu ketakutan. Why should I despair.

Ini kali ketiga “kami” menjalani kemoterapi. Sejak awal dokter menyarankan untuk membeli obat melalui Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan apotek yang direferensikan sehingga harganya lebih rendah dibandingkan membelinya lewat rumah sakit. Dengan sedikit kerepotan ini tentu tidak ada salahnya dilakukan, karena memang harga yang kami bayar jauh lebih rendah.

Pada kali pertama Gary kesakitan. Otot punggung dan perut masih dalam proses terapi. Rasa sakitnya membuat tekanan darahnya lebih tinggi dari biasanya. Maka suster memberikan obat dan mengkonsultasikannya pada dokter apakah terapi bisa dilakukan atau tidak. Dokter mengijinkan dan sebelum pulang ia menambahkan resep obat penghilang rasa sakit. Tidak tanggung-tanggung diberikan MST – morphine…

Hari pertama pada siklus kemoterapi yang panjang, kami sampai di rumah pukul 21.00. Untunglah seorang teman datang menemani sampai hari berakhir. Bercakap-cakap sambil menikmati tahu isi, memperingati 10 tahun pertemanan kami. Pada hari ketiga kami kembali ke rumah sakit ketika pompa sudah flat. Suster memperkirakan waktunya dengan baik dan untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menyetir membawa Gary ke rumah sakit.

Pada siklus kedua rasa sakit sudah agak berkurang. Namun terjadi kelangkaan salah satu jenis regimen. Saya sempat panik ketika sampai di YKI obatnya tidak tersedia. Lalu suster rumah sakit mereferensikan apotek lain dan saya harus menunggu sampai malam kepastiannya. Pada saat menunggu karena sudah berada di sekitaran Menteng, saya menyempatkan bertemu seorang teman yang bekerja di dekat Sarinah dan makan siang yang menyenangkan itu cukup menghibur.

Pada siklus ketiga kali ini kami sudah lebih “siap’. Lebih siap dalam pencarian obat. Lebih siap memahami apa yang akan dihadapi. Beberapa hal sepele yang membuat hari yang panjang ini terasa lebih nyaman dijalani. Misalnya: Kenakan pakaian yang super nyaman, trackpants buat jogging dan kemeja katun yang longgar. Tentunya kancing di depan karena chemoport-nya ada di dada kiri. Oleskan krim Emla 5% – yang berguna membuat baal pada kulit sekitar chemoport sehingga tidak terasa sakit pada saat tusukan pertama. Membawa earphone karena kalau mau menyaksikan video podcast atau berbagai program lewat telepon genggam, tidak perlu mengganggu pasien lain. Membawa kaus kaki, kadang pada saat obat infus masuk ruangan terasa sangat dingin. Menyiapkan penutup mata yang biasa didapatkan dari maskapai saat kita melakukan penerbangan panjang. Terkadang suster menghidupkan lampu yang lumayan membuat mata silau. Kalau lagi pengen tidur, sementara pakai saja penutup mata.

Dengan persiapan prima ini, ternyata setelah kami tiba, suster tidak bisa menjalankan terapi langsung. Karena detak jantungnya sangat lemah, melalui konsultasi dengan dokter kami diminta melakukan EKG dulu. Setelah rekam jantung menunjukan “normal”, baru terapi dilakukan.

Seperti biasa terapi ini dilakukan beberapa tahapan, yang pertama dikenal dengan pre-med. Yaitu obat-obat persiapan seperti anti mual dan anti alergi. Kemudian dilanjutkan dengan obat kemoterapinya yaitu eloxation, leucovorin dan 5FU. Untuk 5Fu sebagian diberikan di rumah sakit dan sebagian dilakukan selama kurang lebih 46 jam dengan pompa yang dibawa pulang. Hari ketiga kami harus kembali ke rumdah sakit untuk mencabut jarumnya dan menentukan tanggal pengecekan darah dan konsultasi dengan dokter.

Nah, buat teman-teman yang mungkin mengalami hal sama, semoga informasi ini berguna. Kalau ada yang ingin ditanyakan, saya juga dengan senang hati berbagi “petualangan” ini.

Rumah Sakit

Pada akhir tahun 2014, kami – saya dan pasangan mengalami sebuah pembelajaran yang berat. Bertahun-tahun kami sehat wal-afiat, tahu-tahu dihadapkan pada sebuah situasi yang mengancam jiwa. Terlepas dari situasi tersebut, saya hendak membagikan pengalaman ini, sedikit demi sedikit…

Sekali saya pernah dirawat di rumah sakit karena menderita demam berdarah. Pada tahun 2009, kami tidak merasakah kesulitan berhubungan jenis penyakit ini adalah endemik yang banyak diketahui. Walaupun penyakit ini dapat mematikan namun dokter di Rumah Sakit Jakarta menyatakan bahwa dengan perawatan saya bisa pulih segera. Saya beruntung dari sebagian masyarakat karena mempunya asuransi, dengan menunjukan kartu sayapun diarahkan ke kamar sesuai, tanpa ada masalah.

Satu malam di rumah sakit saya merasa tidak betah dan merencanakan pulang jika memungkinkan. Apalagi keesokan harinya Gary dijadwalakan pergi ke ke Singapora untuk keperluan visa. Jadi pada hari kedua, saya merencanakan kepulangan. Meminta suster melaporkan permintaan ini pada dokter dan menandatangani surat pulang paksa.

Pada saat itu kami yakin, tidak ada yang bisa dilakukan rumah sakit selain membuat saya mendapatkan cairan yang juga dapat dilakukan dengan cara minum sebanyak-banyaknya. Sebelum Gary berangkat ke Singapura, ia belikan saya berbagai cairan yang bisa diminum seperti jus jambu merah, Pocari Sweat, oralit dan angkak. Selama beberapa jam kepergiannya lebih nyaman rasanya di tempat tidur sendiri daripada di rumah sakit.

Meskipun dirawat dalam waktu singkat (2 malam) saya beruntung sekali mempunyai teman-teman yang sungguh penuh perhatian. Pengalaman singkat ini cukup membuat sadar bahwa kesehatan adalah yang terpenting. Saya selalu berusaha menjaganya dengan makan makanan sehat dan berolah-raga.

enaliya-and-friends

Kali kedua pengalaman kami adalah di MRCCC Siloam Semanggi. Dimulai pada 9 Desember 2014, dengan pengantar dari SOS Clinic di Cipete. Diagnosa awal Gary menderita anemia yang cukup parah, yang mungkin mengancam jiwa sehingga perlu mendapatkan tranfusi darah. Kami masuk tanpa kesulitan walaupun menunggu cukup lama di front desk yang mirip dengan front desk hotel.

Baik Rumah Sakit Jakarta maupun MRCCC Siloam mudah dijangkau. Dengan memiliki kartu asuransi kamipun dengan mudah diterima dan mendapatkan layanan. Namun keduanya sama saja tidak memberikan kenyamanan. Ketika memasuki MRCCC Siloam, saya merasa masuk ke dalam mall atau hotel. Situasinya tidak menakutkan namun tidak juga memberikan keamanan dan kenyamanan sebagai fasilitas rawat/kesehatan.

Perasaan sebagai customer yang akan menggulirkan dana sangat terasa. Dengan memiliki jaminan asuransi saja, kami serasa dikejar-kejar dengan permintaan deposit karena adanya limit atas pertanggungan. Berulang kali kami jelaskan bahwa kami akan berkomitmen melakukan pembayaran jika sudah ada perhitungan akhir (final). Selama dirawat 21 hari, setiap Hari Kamis surat cinta dilayangkan dan keluarga pasien harus menghadap. Untuk mengingatkan bahwa ada kemungkinan pembayaran harus dilakukan dan keluarga wajib menyetorkan deposit.

Para petugas di bagian pembayaran, walaupun tidak semuanya, bahkan memberikan contoh-contoh bahwa pasien lain harus membayar ratusan juga walaupun sudah ada jaminan dari asuransi. Setiap menghadap, yang total tiga kali saya melakukan pembicaraan dengan para petugas di lantai 5, jumlah jaminan berubah-ubah dari lebih dari 100 juta rupiah hingga meminta 20-30 juta rupiah saja. Saya menekankan bahwa akan lebih rumit kalau nanti ada kelebihan bayar dan MRCCC Siloam harus melakukan re-fund. Mereka tidak punya jawaban dan saya merasa tidak perlu membayar di muka.

Pada saatnya dilakungan penghitungan kami tidak keberatan membayar karena memang ada limit dari jaminan asuransi. Jadi, para keluarga pasien, jangan mau dibuat membayar di muka (deposit) jika kita mempunyai jaminan asuransi. Cara-cara meminta deposit ini malah akan menjebak kita menghabiskan uang lebih banyak di rumah sakit.***

Gary-Plant-Blood-Tranfusion-by-Enaliya

Kemoterapi – Chemoport

Sejak Gary dinyatakan mempunyai tumor yang menghambat jalannya kolonoskopi, saya mempersiapkan diri jika ada kemungkinan adanya sel-sel kanker telah berkembang juga. Kanker bisa jadi suatu momok bagi banyak orang. Proses pengobatan umum yang dikenal sebagai kemoterapi.

Sebenarnya kemoterapi (Bahasa Inggris: chemotherapy) adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Tetapi seringkali merujuk secara eksklusif kepada obat sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker.

Pada persiapan pengangkatan tumor, dokter menanyakan apakah kami setuju jika sekalian dilakukan pemasangan chemo port. Sebagai orang terdekat yang harus mengambil keputusan, mau tidak mau saya mempelajari apakah benda ini. Chemo port atau port kemoterapi, kadang disebut sebagai mediport, cancer port atau portacath, adalah perangkat akses vaskular yang ditanam di bawah kulit sehingga orang dengan kanker dapat diberikan kemoterapi.

Berdasarkan pengetahuan dari teman dan kerabat, ketika pemberian obat dengan IV (intravenous) terjadi pembengkakan atau menghitam. Kadang ada kesulitan menemukan pembuluh vena. Chemo port dipaportsang untuk menghindari hal-hal tersebut. Sehingga pemberian IV akan lebih mudah dan mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul.

Maka dipasanglah media ini di dada kirinya. Dengan pemasangan ini kami siap mendapatkan kemoterapi. Port ini bisa mendapatkan IV sampai dengan 1000x, terbuat dari logam titanium dan ada kartu identitas/serial number jika saja mengalami masalah di bandara karena terdeteksi sebagai logam.

Chemo port

 

Para Dokter

Pada Hari Selasa (9/12/2014)  yang ceria seperti biasa kami berangkat ke kantor yang letaknya hanya satu kilometer dari tempat kami tinggal. Saya naik motor bebek sedangkan si dia naik mobil putih sejuta umat kami. Beberapa minggu terakhir memang kami menggunakan kendaraan berbeda untuk memberi keleluasaan jika ada agenda masing-masing. Sebelumnya kami selalu berusaha menyamakan agenda. Berangkat bersama, pulang bersama, bagaikan Mimi-Mintuna.

Sampai di kantor seperti biasa saya menyelesaikan beberapa hal, umumnya membalas email penting, memantau web dan social media, menindaklanjuti beberapa pekerjaan yang sedang berjalan. Tiba-tiba si dia mengatakan, bahwa hari ini perlu ke dokter. Memang beberapa minggu terakhir, ia mengeluhkan badan yang lemas. Setiap malam susah tidur, kepanasan dan susah bernafas. Karena kebiasaan melakukan sesuatu bersama-sama, sayapun merasa perlu ikut ke klinik. Setelah membuat janji via telepon dengan dokter umum dr. Agus pada puku 10.30, kami berangkat menuju SOS Medika Kinik Cipete, yang dari Kemang relatif dekat.

Hanya lima belas menit kami tiba di klinik, lalu lintas pagi itu padat lancar. Setelah mengisi beberapa formulir, suster mengecek tekanan darah, mengukur suhu, tinggi badan dan berat badan. Selama bertahun-tahun bersamanya, ini adalah hal yang baru kami lakukan. Ada ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak lain juga yang berobat. Menunggu tentu saja bukan pekerjaan yang menyenangkan.

Akhirnya namanya dipanggil oleh dr. Agus dan kamipun masuk ke ruang periksa. Dokter berwajah tampan ini mungkin berusia akhir 30-an atau awal 40-an. Tingginya sekiar 175 centi meter. Wajahnya oval cenderung bulat, bersih bercahaya dengan pembawaan yang berwibawa.

Dengan seksama dr. Agus mengecek detak jantung dan nafas, bagian-bagian perut jika ada yang nyeri. Mengecek mata, telinga dan mulut. Menelisik gejala dan keluhannya. Dokter yang memberikan rasa percaya bahwa ia sedang melakukan tugasnya. Namun tampak di wajahnya, ia tidak punya bayangan mengenai masalah kesehatan ini. Ia menyarankan untuk melakukan pengecekan darah. Pemeriksaan selesai, kami dikirim ke laboratorium dan ia pasrah ditusuk untuk mendapatkan sampel. Sekitar satu jam kami menunggu di cafetaria di lantai atas klinik. Saya memesan sebotol minuman elektrolit dan ia memesan roti lapis ikan tuna dan es teh.

Kami bertemu kembali dengan dr. Agus, kali ini wajahnya agak berbeda. Ia menyatakan bahwa kami perlu konsul ke dokter spesialis karena kadar hemoglobin di darahnya 5.5. Kebetulan dokter spesialis hematologi sering sekali mengantri panjang, dokter ini menjanjikan akan membantu membuatkan janji. Lalu ia menanyakan apakah ada pendarahan pada saat buang air kecil maupun buang air besar. Apakah si dia ingat ada pendarahan lain, misalnya muntah darah. Tetapi tidak ada yang diketahuinya. Kamipun diminta menunggu untuk melakukan penelitian selanjutnya.

dr. Agus mengajak seorang dokter senior, dr. Herbeth, yang diidentifikasi berlogat Afrika Selatan. Dokter berbadan tegap, rambut coklat lurus dan mata tajam. Menyatakan ini kondisi kritis dan meyakinkan si dia harus dirawat di rumah sakit. Sebagai orang yang tidak pernah dirawat di rumah sakit, tentu saja kami merasa tidak perlu. Maka kami menanyakan jika ada pengobatan yang mamungkinkan meningkatkan hemoglobin. Memang ada makanan dan obat-obatan yang dapat meningkatkannya. Namun 5.5 adalah level yang sudah membahayakan jiwa, jalan keluarnya hanya satu transfusi darah.

SOS Medika Klinik membuatkan surat pengantar yang ditujukan kepada dr. Toman L. Toruan, seorang oncologist. Para dokter menyimpulkan hal yang mengkhawatirkan dari angka-angka yang berasal dari pengecekan darah. Selasa malam, kami harus menginap di rumah sakit MRCCC Siloam Semanggi.

Hampir dua jam perjalanan karena macet dari Kemang ke Semanggi, ditambah lebih dari setengah jam mengurus di counter check in, kami pun menunggu penanganan di unit gawat darurat. Seorang paramedik pria dan dr. Erick melakukan pengecekan dengan seksama, kamipun diantar menuju kamar 3511, si dia diminta duduk di kursi roda dan seorang petugas membawanya.

Dokter keempat yang datang mengecek kami adalah dr. Lucy, ia dokter jaga malam itu. Ia menanyakan hal-hal yang sama seperti sebelumnya. Malam itu kami harus setuju dilakukannya tranfusi darah. Malam yang panjang, tiga labu hemoglobin A+ dialirkan ke tubuh yang tampak lemah tak berdaya. Keesokan paginya dr. Susan mengecek dan ia mengatakan bahwa dr. Ralph akan memeriksa lebih lanjut siang ini.

Pengecekan lebih lanjut disarankan oleh dr. Ralph, pada hari Rabu pagi USG abdomen, hari Kamis colonoscopy dan malamnya CT Scan. Sayangnya kami tidak mendapatkan penjelasan yang lebih jelas mengenai hasil ke empatnya. Yang pasti colonoscopy tidak dapat dilanjutkan karena ada tumor yang menghalangi di dinding usus besar. Sehubungan ada rencana shooting pada 17 Desember, kami mempertimbangkan untuk melakukan operasi Kamis depan, setelah komitmen pekerjaan dilakukan. Dokter tidak keberatan, selama pasien merasa fit, hemoglobin stabil, bisa saja menunda jadwal operasi sambil menunggu hasil biopsi yang biasanya memakan waktu 4-5 hari kerja.

Pada Kamis malam, saya bertemu dr. Wifanto yang berencana melakukan pembedahan. Dokter bedah senior ini ramah dan berwibawa. Karena kesibukan yang padat dr. Wifanto kadang datang berkunjung tengah malam, begitu para juru rawat bercerita. dr. Wifanto ingin menjadwalkan operasi pada hari Minggu. Tetapi kami masih memikirkan untuk menundanya.

Pada Jumat pagi, klien berkabar bahwa shooting tanggal 17 Desember ditunda sampai Januari 2015. Hal ini dikarenan pembangunan “enterainment room” yang akan menjadi salah satu fokus video, belum selesai dibangun. Sepertinya semesta bekerja bersama para dokter untuk membuat operasi dilakukan secepatnya. Siangnya, dr. Toman L. Toruan datang berkunjung. Ia baru saja kembali dari konferensi di Amerika. Dokter onkologis ini merencanakan jadwal secepatnya, dan kamipun sepakat. Sungguh minggu yang padat, pertemuan dengan para dokter… Sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan….!

GP-Hospital

Bunuh Diri

Sampai setua ini… Saya akhirnya menyimpulkan dua hal yang kita “tidak boleh” dalam menjalani hidup ini, pertama kita tidak boleh kehilangan harapan, kedua kita tidak boleh berhenti mencoba.

Ada yang tidak setuju? Oh, boleh saja… Ini-kan cara saya menjalani hidup ini. Orang lain boleh saja tidak setuju. Misalnya ada seorang yang pernah saya kenal. Ia melakukan percobaan bunuh diri, tidak tanggung-tanggung, menggunakan piring dan menyayat nadinya. Kenapa ia melakukan itu? Saya tidak pernah berani membahasnya dengan yang bersangkutan secara langsung. Tentu saja karena ini hal sensitif. Apakah akibat tindakan percobaan bunuh diri ini, tentu pihak yang menemukan panik dan berusaha menyelamatkannya.

Apa sih bunuh diri itu? Menurut Sakinofsky, “bunuh diri” atau “suicide” adalah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri sering dilakukan sebagai akibat putus asa, penyebabnya juga yang sering dikaitkan gangguan mental seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan emosi tidak stabil, kecanduan alkohol dan penyalahgunaan obat. Faktor-faktor lainnya yang berperan antara lain tekanan seperti kesulitan keuangan atau kesulitan dalam hubungan inter-personal. Pencegahan atas upaya bunuh diri bisa dengan membatasi akses/jangkauan pada senjata api, terapi pada gangguan jiwa dan penyalahgunaan obat-obatan, dan perbaikan situasi ekonomi. Meskipun terdapat banyak layanan hotline/krisis tersedia, namun sedikit sekali bukti bahwa fasilitas tersebut berfungsi secara efektif.

Kalau ada di sekitar teman-teman yang mengetahui ada upaya bunuh diri mungkin harus mempelajari upaya pencegahan bunuh diri.

Namun, kembali ke pendapat saya di awal, jika kita tidak pernah kehilangan harapan dan tidak pernah berhenti untuk mencoba, niscaya – tidak ada terbersit niat untuk bunuh diri. Karena teman hidup ini indah 🙂

Enaliya-Create-a-Beautiful-Life

Burning the Bridges

enaliya-burning-bridges

Tinggalkan yang lama, mulai yang baru 🙂 demikian sederhananya petuah ini. Tentu saja banyak juga ajaran yang meminta menjunjung tinggi hal-hal lama, hal-hal yang diturunkan, hal-hal yang telah ada, silaturahmi dan lain sebagainya. Namun dalam situasi tertentu kebaruan adalah lebih baik.

Seorang sahabat mengambil analogi tradisi bakar tongkang di Bagan Siapiapi, Riau. Konon bermula ketika para pendatang Tiongkok yang terdampar di daerah Rokan, sang kapten akhirnya memutuskan untuk membakar bagan (perahu-perahu) mereka supaya rakyatnya tidak ada lagi keinginan untuk kembali lagi ke negeri asalnya. Mereka dipaksa untuk “move on” di tempat barunya. Meskipun pada saat itu kondisi di daerah baru sangat sulit (namanya juga memulai) dan ditambah terjadi wabah berbagai penyakit. Perahu yang terbakar menggambarkan hubungan dengan tanah asal, menguatkan tekad dalam hati untuk tidak kembali. Tanah yang dipijak menjadi tanah yang penuh harapan.

Sedangkan Urban Dictiornary, menjelaskan – burning the bridge – cut off all ties in a relationship when you burn a bridge you can’t cross it again. To burn a bridge means to be completely done with something.

Selesai sudah. Tak perlu lagi dilanjutkan, done is done. Dalam hidup ada hal yang kemudian kita perlu memutuskan, demi kebaikan kita sendiri. Dan bisa jadi demi kebaikan yang bersangkutan. Pada akhirnya, mungkin sudah begitu seharusnya jalan hidup membawa kita.