Category Archives: Ketak Ketik

Pijat Ala Bali

Tahap Persiapan:

Mintalah klien untuk berbaring tengkurap, hanya menggunakan celana dalam. Tutuplah dengan kain sarung dari bagian leher hingga kaki.

1. Goyang-goyangkan badan, untuk membuatnya rileks.

Berdirilah di sisi kiri klien. Letakkan tangan kiri di punggung (scapula) sebelah kiri dan tangan kanan di atas pantat sebelah kiri. Goyang-goyang kira-kira 10 kali atau secukupnya. Pada saat memintahkan tangan kiri ke pantat, tangan kanan melanjutkan goyangan. Kemudian lanjutkan goyangan pantat dengan tangan kiri dan pindahkan tangan kanan ke betis. demikian juga pada saat memindahkan tangan kanan ke betis kanan, tangan kiri masih terus menggoyang-goyang kan badan di pantat kiri. Lanjutkan goyangan dengen memindahkan tangan kiri ke pantat sebelah kanan, lalu tagan kiri ke scapula kanan.

2. Berdirilah di bagian kepala dan lakukan tekanan alternating dengan telapak tangan sejak pundak atas sampai menuju pantat, (a) lakukan comotan pada kedua pantat (4x) lalu bergerak ke atas pundak,  (b) lanjutkan tekanan alternating ke lengan sampai telapak tangan.

3. Buka sarung sedikit, (a) pijat 3 jari pada leher bawah dan leher atas, (b) lakukan finger tips (4x), (c) head massage 3 putaran, buka telapak tangan taruh di kepala, putar perlahan.

Turunkan sarung, kaitkan pada celana dalam.

Punggung Belakang

1. Berdiri di samping kiri, depan bagian pantat, comot pantat kanan-kiri 4X

2. Gunakan kedua jempol untuk menekan dua sisi pinggul/samping pantat, dua titik tulang belakang bawah, lalu ukur dengan jengkal tulang belakang di kedua sisi.

3. Sampai di leher tekan pundak sampai lengan atas, kembali ke leher comot 4x

4. Tekan tulang belakang dengan kedua jempol hingga mencapai atas pantat

5. Comot kedua belah pantat 1 kali dengan tangan kanan, tadahkan tangan kiri di dekat pantat, tuangkan minyak, oleskan secukupnya.

1. Lakukan 2x general

2. Gerakan Telapan ke atas untuk melakukan putaran scapula (belikat) 3x

3. Akhiri dengan namaste, gerakan telapak tangan ke bawah, ulang langkah 1-3 ini

Pijat Punggung Per Sisi (Kiri lalu Kanan)

1. Lakukan 1x general

2. “Jempol meluncur”, luncurkan kedua ibu jari di pantat kiri bagian atas dengan ibu jari menghadap ke bawah 4X

3. Double palm/tangan tumpuk  (tangan kanan di bawah) dari tulang belakang ke lengan 2X

4. Alternating atau telapak tangan bergantian setengah badan 4x

5. Telapak tangan melingkari belikat 4X diakhiri dengan double palm

Melarung

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “larung” berarti peti mayat yang tidak berdasar. Sedangkan “melarung” berarti membiarkan hanyut atau menghanyutkan. Setelah proses kremasi pada 30 November 2015, saya membawa pulang 2 buah guci yang berisi abu badan dan sebuah kantong kain yang berisi abu peti dan serpihan tulang. Menurut manajer kremasi di Oasis Lestari, umumnya abu peti dan serpihan tulang tidak disimpan, tetapi dilarung ke lautan, misalnya Tanjung Pasir atau  Ancol.

Maka pada Sabtu pagi, 23 Januari 2016, bersama keluarga Dedi Maryadi (Ibu Cici Riesmasari, Cakra & Tari), Mas Jon dan Bevita, aku berangkat ke Pelabuhan Ratu.  Berhubung kesiangan kami bertemu dengan macet, seperti biasa pasar yang tumpah ke jalanan. Melewati Cikidang sudah tengah hari, Cakra muntah-muntah dan kami memutuskan untuk berhenti. Menyantap mie goreng dan mie rebus khas jalanan Indonesia.

Tiba di Pelabuhan Ratu, tempat bertemu dengan teman Pak Dedi adalah Cimaja Square. Cafe dan pemondokan ini konon milik artis Bucek, dan memang tampak ia duduk bersama seseorang di satu sisi. Ibundanya dengan ramah-tamah menyapa ketika kami tiba.

Sambil menunggu teman Pak Dedi yang akan membantu menyewakan perahu, kami mengecek kamar. Menuju pondok (cottage) kami harus berjalan cukup jauh melewati perkampungan. Pondok tersebut tidak terlalu luas, ruangan bawah hanya berisi satu sofa dan dapur kecil, sedangkan kamar di lantai atas. Ini bukan pondok yang cocok untuk 5 orang dewasa dan 2 anak balita.  Maka kami memutuskan untuk mengecek tempat lain.

Sebelum hari semakin sore, kami menuju pantai Sunset dimana perahu bersandar. Awalnya hujan turun sehingga kami harus berteduh. Tak lama hujan reda dan kami bertiga (aku, Cici dan Bevi) ikut dengan para tukang perahu. Ombak tidak terlalu tinggi, perlahan kami menjauh dari daratan dan tiba di tengah untuk melarung. Kuucapkan selamat tinggal sekali lagi…

melarung abu peti Gary di Pelabuhan Ratu

Minggu Kedua 2016

Hari ke-11 2016, waktunya menghadapi kenyataan, kupacu sepeda motor bertemu Mbak Puji Hastutik yang bersedia menemaniku ke Kantor Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jakarta Selatan. Hari ini aku akan mengurus pembuatan Akta Kematian Gary. Lobby kantor Sudin Dukcapil ramai orang dengan berbagai keperluan, membuat KTP, akta kelahiran, kematian, mengurus pernikahan dan perceraian. Kami menyiapkan persyaratan sesuai dengan informasi di layar visual. Tukang fotokopi terdekat tutup, maka terpaksa mencari ke arah Pasar Mayestik. Setelah dokumen siap, aku mengambil nomor antrian dan menunggu. Tiba nomor dipanggil, seperti biasa, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata untuk Warga Negara Asing dilakukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI. Alatnya di Jl. S. Parman No.7 Jakarta Barat. Telp. 021-566 2296.

Hari ke-12 2016, adikku bersedia mengantar ke Grogol dan kamipun berangkat ke sana pagi-pagi. Ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi sehingga aku harus kembali lagi kesana keesokan harinya. Dari kantor Dinas Dukcapil aku minta diantar ke rumah sakit untuk mengurus klaim asuransi. Sampai di rumah hujan lebat sekali… Kami makan siang bersama dan adikku kembali ke Cikarang sebelum macet menjelang.

Hari Ke-13 2016, untuk kedua kalinya ke kantor Dinas Dukcapil untuk melengkapi surat-surat. Pulang ke rumah naik busway karena adikku haru ke kantor dan meeting dengan klien. Berjalan dari halte busway Duren Tiga ke Kemang Utara. Lumayan hari ini cukup olah raga.

Hari ke-14 2016, menyiapkan laporan pajak Bulan Desember 2015, namun sepertinya sudah terlalu siang untuk menuju Tebet. Main-main ke kantor Nirwana dan membicarakan kemungkinan venture dan bekerja dengan klien baru. Makan siang di Gourmet Garage dengan Erni & Chris Breckwoldt.

Hari ke-15 2016, ke kantor pajak di Tebet dilanjut ke Traffic Management Center (TMC) Keliling Kalibata yang melayani pembayaran pajak dan perpanjangan STNK. Antrian lumayan panjang tapi masih bisa selesai dan kembali ke rumah sebelum pk 10.00. Urusan satu-satu diselesaikan 🙂

12400867_10153769641212324_1392190196906886115_n

Minggu Pertama 2016

Malam pergantian tahun dari 2015 ke 2016 aku bersama-sama dengan 3 orang teman. Mereka setuju untuk datang ke rumah dan menginap. Yay! Kami berempat duduk seputar meja ngobrol ngalor-ngidul. Hidangan salad dan pasta ditemani beer dan wine, ditambah cheese cake dan chocolate cake. Pergantian sore dan tengah malam terasa begitu cepat. Tepat pukul 24.00 kembang api bermunculan, pintu depan dibuka dan terasa begitu dekat.

IMG_0295

Hari pertama 2016, kami menuju Cimanggis mengunjungi seorang teman. Terakhir aku berkunjung ke rumahnya pada Desember 2013. Hari yang menyenangkan dan kami kembali ke Jakarta ketika hari sudah gelap. Singgah makan makan malam tahu tek telur di Pasar Minggu.

Hari kedua 2016, teman yang menginap sudah pulang, rumah terasa lengang. Aku coba mencari kesibukan… Sore hari hujan lebat dan jalanan digenangi air. Kilat gemerlap dan geluduk terdengar di kejauhan. Kupanggil Gary dan menanyakan apakah dia masih disini. Aku mau dia tahu bahwa aku sudah merelakannya, tetapi aku juga terus merindukannya.

Sore hari Nadira menelpon, Chris Botting seorang teman dari Inggris terkena serangan jantung dan berpulang. Ada gathering di Eastern Promise untuk mengenangnya. Rob dan Nadira akan menjemputku dan senang bertemu dengan teman-teman Gary. Sebagian teman yang baru sempat bertemu lagi setelah Gary berpulang juga menyampaikan bela sungkawa.

Hari ketiga 2016, aku memutuskan menjumpai Lidia yang lari pagi di Taman Tebet. Iming-iming lari kali ini adalah jajanan bubur Manado. Okay! Lari dua keliling cukup, lanjut minum jus, makan bubur Manado, dan ngemil kue cubit. Pagi menjelang siang, pulang ke rumah naik busway, singgah di pasar membeli ikan untuk Roscoe.

Sorenya, Bevi mengajak makan malam di Cilandak Town Square. Sepulang dia dari gereja untuk misa sore kami bertemu. Aku mengendarai sepeda motor. Diam-diam aku menikmati mengendarai sepeda motor. Merasakan angin menerpa wajahku dan menikmati jalanan yang lengang. Malam datang dan aku menjemput kesendirian di rumah yang lengang.

Hari keempat 2016, aku mulai mengerjakan pekerjaan administrasi baik PT. Direct Media maupun PT. Network Multimedia. Mbak Puji kawan lama di Terre des Hommes Netherlands datang berkunjung, menjadi selingan pekerjaan yang cukup membosankan. Sore harinya, Eeng – Video Editor datang untuk menyelesaikan revisi terakhir video pengantar Borobudur, Prambanan dan Keraton Ratu Boko.

Hari kelima 2016, Wiendy dan Yuli datang ke rumah. Mengerjakan beberapa dokumen, walaupun agak susah, karena otak sudah tidak tune-in pada hal tersebut. Bahan-bahan yang sudah lewat setahun. Aku sendiri tidak yakin, apakah harus terlibat dalam proses politik (lagi)? Tapi, kalau bukan kita, siapa? (cie, cieeeee)

Hari keenam 2016, seharian di rumah, sore-sore menengok Kitaro dan mengajaknya berjalan-jalan 🙂

Hari ketujuh 2016, seharian di rumah, sorenya pergi menonton Ip Man, bersama Dina, Mas Lutfi dan Lidia. Mas Lutfi sekarang hobinya menyajikan kopi dengan berbagai cara. Sekali-kali harus dimampiri rumah Cileungsi nih 😉

Hari kedelapan 2016, urusan dokumen dengan Pak RT di Otista selesai. Adikku sayang mengantarku, seperti biasa dia mengantarku… Handover dokumen-dokumen lama dan menyerahkan urusan admin yang aku sudah tidak tertarik lagi mengerjakan. Bertemu dengan Deputy 1 Barekraf, perkenalan pertama… Semoga bisa membuka jalan kerja sama…

Selamat Jalan Sayang

Gary pergi 28 November 2015, tepat sebulan tanpa dia. Sebulan yang lalu kupeluk dia dan kuminta dia untuk bertahan. Kuyakinkan bahwa dia akan lebih baik. Namun ternyata garis hidup menentukan lain. Gary pergi pagi itu pukul 09.20. Kematian memeluk dia, dan aku harus merelakannya.

Seorang teman berada di sisiku dan tidak ada yang dapat aku lakukan selain terisak. Aku segera menghubungi keluarga di Kanada yang sejak beberapa hari yang lalu juga telah secara intensif berkabar. Tidak mudah menyampaikan kabar sedih ini…

Kemudian ketika kabar tersebar, teman-teman yang lain tiba dan membantuku menyiapkan segala sesuatunya. Sungguh beruntung aku mempunyai teman-teman yang bahu-membahu memberikan bantuan. Malam itu Gary dibawa ke rumah duka Oasis Lestari di Tangerang. Jenazahnya dibersihkan dipersiapkan untuk disemayamkan.

Minggu 29 November 2015, Gary tampak tertidur di petinya, wajahnya tersenyum dan beberapa teman datang memberikan penghormatan terakhir. Ibuku, kakak, adik dan para kemenakan juga datang memberikan kekuatan padaku.

Senin, 30 November 2015, aku mengurus surat ijin kremasi ke Kedutaan Kanada, berkat bantuan dari teman-teman, tidak ada kesulitan dan kremasi dapat dilakukan sesuai jadwal. Selama tiga hari berturut-turut, beberapa teman mendampingi, membantu dan menguatkan. Tak akan kulupakan betapa mereka adalah harta paling berharga dalam hidupku.

Selama beberapa hari seorang teman tinggal bersamaku dan memberikan dukungannya ketika aku merasakan kesedihan. Setelah ia kembali ke negerinya, beberapa teman yang lain juga datang memberikan bantuan ketika aku membutuhkan. Namun pada hakikatnya aku hidup sendiri sekarang dan ini harus kejalani.

Hari-hari aku rasakan tidak mudah. Bangun pagi tidak ada yang dapat aku sapa atau menyapaku. Pulang ke rumah yang kosong hanya menyapa Roscoe kucing peliharaan. Setiap hari kucoba untuk bertemu seorang teman, dan berbagi kabar. Beberapa undangan untuk bertemu, makan malam atau sekedar membantu teman kujalani saja. Kucoba untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang masih tertunda. Setelah satu bulan, aku masih sering menangisi. Ibuku berkata tidak perlu merasa lemah. Biarkan waktu yang akan menyembuhkanya. Jalani kesedihan ini dengan keyakinan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuk Gary. Selamat jalan sayang…

Roscoe

Sejak lama saya tidak pernah berencana mempunyai binatang peliharaan. Bukan tidak kepengen mempunyai makhluk lucu berkeliaran di dalam rumah. Tetapi lebih karena menghindari tanggung jawab untuk memelihara. Timbal-balik yang wajar kan, menikmati kesenangan lalu menunaikan kewajiban…

Namun suatu hari di bulan Juni, seekor kucing kecil ditinggalkan seseorang di depan pintu. Warnanya ginger, mengeong lemah. Gary menghangatkan semangkuk kecil susu dan ia melahapnya. Beberapa minggu kemudian, ia sudah bisa makan wet food dan dry food.

Ia berkeliaran di depan rumah dan bersembunyi di balik tanaman pagar. Ada beberapa kucing lain yang kadang datang juga. Biasanya kami juga memberi mereka dry food.

Kadang-kadang Gary mengajaknya masuk dan membelai-belainya. Kalau saya ada banyak kesibukan di luar, Gary dan Roscoe, begitu kucing ini kemudian diberi nama, tampak banyak menghabiskan waktu bersama.

Kalau kami berdua pergi bersama, misalnya harus ke rumah sakit untuk terapi Gary. Kami tinggalkan di luar rumah dan ketika kami kembali ia sudah menunggu di depan pintu.

Suatu saat ketika kami kembali, saya tidak dapat menemukannya. Saya panggil-panggil dengan trik memanaskan susu di microwave yang biasanya membuat dia muncul. Tetapi sunyi-sepi, Roscoe tidak kembali.

Sehari, dua hari, alangkah sedih membayangkan kalau ada sesuatu terjadi pada dia. Kami berdua berbincang, mengharap si kecil baik-baik saja. Semoga sehat dan memang lebih bahagia menjadi kucing jalanan.

Tetapi jalan ceritanya tidak demikian, pada hari keempat, Roscoe kembali. Dan dia lebih suka di dalam rumah. Kelihatan sedih kalau kami keluarkan, karena kami harus keluar rumah. Diapun mulai mengencingi keset handuk di dapur, tentu karena ada di dalam rumah seharian, dia harus kencing.

Saya sangat marah, saya keluarkan dia dan menaruh keset basah di mukanya, dan menjentik kupingnya. Semoga dia merasa bersalah, karena saya pun merasa bersalah setelah melakukan itu.

Saya dan Garypun sepakat kita harus memfasilitasinya dengan litter box. Kemudian juga memanggil dokter hewan untuk pemeriksaan dan vaksin. Resmilah ia menjadi kucing peliharaan kami. ***

Gary and Roscoe

 

 

 

 

 

 

Kemoterapi

Every day I think what a fascinating and amusing adventure this is! With all that, why should I despair?” –3rd May, 1944, ‘Diary of A Young Girl’.

Mungkin terlalu berlebihan kalau saya membandingkan diri dengan Anne Frank. Namun untuk tidak menjadi “drama queen”, boleh dong kalo saya bilang apa yang saya alami tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Anne Frank. Kalau cara saya menjalani hari-hari penuh tantangan ini, seperti Anne, menjalaninya sebagai petualangan dan tidak perlu ketakutan. Why should I despair.

Ini kali ketiga “kami” menjalani kemoterapi. Sejak awal dokter menyarankan untuk membeli obat melalui Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan apotek yang direferensikan sehingga harganya lebih rendah dibandingkan membelinya lewat rumah sakit. Dengan sedikit kerepotan ini tentu tidak ada salahnya dilakukan, karena memang harga yang kami bayar jauh lebih rendah.

Pada kali pertama Gary kesakitan. Otot punggung dan perut masih dalam proses terapi. Rasa sakitnya membuat tekanan darahnya lebih tinggi dari biasanya. Maka suster memberikan obat dan mengkonsultasikannya pada dokter apakah terapi bisa dilakukan atau tidak. Dokter mengijinkan dan sebelum pulang ia menambahkan resep obat penghilang rasa sakit. Tidak tanggung-tanggung diberikan MST – morphine…

Hari pertama pada siklus kemoterapi yang panjang, kami sampai di rumah pukul 21.00. Untunglah seorang teman datang menemani sampai hari berakhir. Bercakap-cakap sambil menikmati tahu isi, memperingati 10 tahun pertemanan kami. Pada hari ketiga kami kembali ke rumah sakit ketika pompa sudah flat. Suster memperkirakan waktunya dengan baik dan untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menyetir membawa Gary ke rumah sakit.

Pada siklus kedua rasa sakit sudah agak berkurang. Namun terjadi kelangkaan salah satu jenis regimen. Saya sempat panik ketika sampai di YKI obatnya tidak tersedia. Lalu suster rumah sakit mereferensikan apotek lain dan saya harus menunggu sampai malam kepastiannya. Pada saat menunggu karena sudah berada di sekitaran Menteng, saya menyempatkan bertemu seorang teman yang bekerja di dekat Sarinah dan makan siang yang menyenangkan itu cukup menghibur.

Pada siklus ketiga kali ini kami sudah lebih “siap’. Lebih siap dalam pencarian obat. Lebih siap memahami apa yang akan dihadapi. Beberapa hal sepele yang membuat hari yang panjang ini terasa lebih nyaman dijalani. Misalnya: Kenakan pakaian yang super nyaman, trackpants buat jogging dan kemeja katun yang longgar. Tentunya kancing di depan karena chemoport-nya ada di dada kiri. Oleskan krim Emla 5% – yang berguna membuat baal pada kulit sekitar chemoport sehingga tidak terasa sakit pada saat tusukan pertama. Membawa earphone karena kalau mau menyaksikan video podcast atau berbagai program lewat telepon genggam, tidak perlu mengganggu pasien lain. Membawa kaus kaki, kadang pada saat obat infus masuk ruangan terasa sangat dingin. Menyiapkan penutup mata yang biasa didapatkan dari maskapai saat kita melakukan penerbangan panjang. Terkadang suster menghidupkan lampu yang lumayan membuat mata silau. Kalau lagi pengen tidur, sementara pakai saja penutup mata.

Dengan persiapan prima ini, ternyata setelah kami tiba, suster tidak bisa menjalankan terapi langsung. Karena detak jantungnya sangat lemah, melalui konsultasi dengan dokter kami diminta melakukan EKG dulu. Setelah rekam jantung menunjukan “normal”, baru terapi dilakukan.

Seperti biasa terapi ini dilakukan beberapa tahapan, yang pertama dikenal dengan pre-med. Yaitu obat-obat persiapan seperti anti mual dan anti alergi. Kemudian dilanjutkan dengan obat kemoterapinya yaitu eloxation, leucovorin dan 5FU. Untuk 5Fu sebagian diberikan di rumah sakit dan sebagian dilakukan selama kurang lebih 46 jam dengan pompa yang dibawa pulang. Hari ketiga kami harus kembali ke rumdah sakit untuk mencabut jarumnya dan menentukan tanggal pengecekan darah dan konsultasi dengan dokter.

Nah, buat teman-teman yang mungkin mengalami hal sama, semoga informasi ini berguna. Kalau ada yang ingin ditanyakan, saya juga dengan senang hati berbagi “petualangan” ini.