Kemoterapi

Every day I think what a fascinating and amusing adventure this is! With all that, why should I despair?” –3rd May, 1944, ‘Diary of A Young Girl’.

Mungkin terlalu berlebihan kalau saya membandingkan diri dengan Anne Frank. Namun untuk tidak menjadi “drama queen”, boleh dong kalo saya bilang apa yang saya alami tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Anne Frank. Kalau cara saya menjalani hari-hari penuh tantangan ini, seperti Anne, menjalaninya sebagai petualangan dan tidak perlu ketakutan. Why should I despair.

Ini kali ketiga “kami” menjalani kemoterapi. Sejak awal dokter menyarankan untuk membeli obat melalui Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan apotek yang direferensikan sehingga harganya lebih rendah dibandingkan membelinya lewat rumah sakit. Dengan sedikit kerepotan ini tentu tidak ada salahnya dilakukan, karena memang harga yang kami bayar jauh lebih rendah.

Pada kali pertama Gary kesakitan. Otot punggung dan perut masih dalam proses terapi. Rasa sakitnya membuat tekanan darahnya lebih tinggi dari biasanya. Maka suster memberikan obat dan mengkonsultasikannya pada dokter apakah terapi bisa dilakukan atau tidak. Dokter mengijinkan dan sebelum pulang ia menambahkan resep obat penghilang rasa sakit. Tidak tanggung-tanggung diberikan MST – morphine…

Hari pertama pada siklus kemoterapi yang panjang, kami sampai di rumah pukul 21.00. Untunglah seorang teman datang menemani sampai hari berakhir. Bercakap-cakap sambil menikmati tahu isi, memperingati 10 tahun pertemanan kami. Pada hari ketiga kami kembali ke rumah sakit ketika pompa sudah flat. Suster memperkirakan waktunya dengan baik dan untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menyetir membawa Gary ke rumah sakit.

Pada siklus kedua rasa sakit sudah agak berkurang. Namun terjadi kelangkaan salah satu jenis regimen. Saya sempat panik ketika sampai di YKI obatnya tidak tersedia. Lalu suster rumah sakit mereferensikan apotek lain dan saya harus menunggu sampai malam kepastiannya. Pada saat menunggu karena sudah berada di sekitaran Menteng, saya menyempatkan bertemu seorang teman yang bekerja di dekat Sarinah dan makan siang yang menyenangkan itu cukup menghibur.

Pada siklus ketiga kali ini kami sudah lebih “siap’. Lebih siap dalam pencarian obat. Lebih siap memahami apa yang akan dihadapi. Beberapa hal sepele yang membuat hari yang panjang ini terasa lebih nyaman dijalani. Misalnya: Kenakan pakaian yang super nyaman, trackpants buat jogging dan kemeja katun yang longgar. Tentunya kancing di depan karena chemoport-nya ada di dada kiri. Oleskan krim Emla 5% – yang berguna membuat baal pada kulit sekitar chemoport sehingga tidak terasa sakit pada saat tusukan pertama. Membawa earphone karena kalau mau menyaksikan video podcast atau berbagai program lewat telepon genggam, tidak perlu mengganggu pasien lain. Membawa kaus kaki, kadang pada saat obat infus masuk ruangan terasa sangat dingin. Menyiapkan penutup mata yang biasa didapatkan dari maskapai saat kita melakukan penerbangan panjang. Terkadang suster menghidupkan lampu yang lumayan membuat mata silau. Kalau lagi pengen tidur, sementara pakai saja penutup mata.

Dengan persiapan prima ini, ternyata setelah kami tiba, suster tidak bisa menjalankan terapi langsung. Karena detak jantungnya sangat lemah, melalui konsultasi dengan dokter kami diminta melakukan EKG dulu. Setelah rekam jantung menunjukan “normal”, baru terapi dilakukan.

Seperti biasa terapi ini dilakukan beberapa tahapan, yang pertama dikenal dengan pre-med. Yaitu obat-obat persiapan seperti anti mual dan anti alergi. Kemudian dilanjutkan dengan obat kemoterapinya yaitu eloxation, leucovorin dan 5FU. Untuk 5Fu sebagian diberikan di rumah sakit dan sebagian dilakukan selama kurang lebih 46 jam dengan pompa yang dibawa pulang. Hari ketiga kami harus kembali ke rumdah sakit untuk mencabut jarumnya dan menentukan tanggal pengecekan darah dan konsultasi dengan dokter.

Nah, buat teman-teman yang mungkin mengalami hal sama, semoga informasi ini berguna. Kalau ada yang ingin ditanyakan, saya juga dengan senang hati berbagi “petualangan” ini.