Para Dokter

Pada Hari Selasa (9/12/2014)  yang ceria seperti biasa kami berangkat ke kantor yang letaknya hanya satu kilometer dari tempat kami tinggal. Saya naik motor bebek sedangkan si dia naik mobil putih sejuta umat kami. Beberapa minggu terakhir memang kami menggunakan kendaraan berbeda untuk memberi keleluasaan jika ada agenda masing-masing. Sebelumnya kami selalu berusaha menyamakan agenda. Berangkat bersama, pulang bersama, bagaikan Mimi-Mintuna.

Sampai di kantor seperti biasa saya menyelesaikan beberapa hal, umumnya membalas email penting, memantau web dan social media, menindaklanjuti beberapa pekerjaan yang sedang berjalan. Tiba-tiba si dia mengatakan, bahwa hari ini perlu ke dokter. Memang beberapa minggu terakhir, ia mengeluhkan badan yang lemas. Setiap malam susah tidur, kepanasan dan susah bernafas. Karena kebiasaan melakukan sesuatu bersama-sama, sayapun merasa perlu ikut ke klinik. Setelah membuat janji via telepon dengan dokter umum dr. Agus pada puku 10.30, kami berangkat menuju SOS Medika Kinik Cipete, yang dari Kemang relatif dekat.

Hanya lima belas menit kami tiba di klinik, lalu lintas pagi itu padat lancar. Setelah mengisi beberapa formulir, suster mengecek tekanan darah, mengukur suhu, tinggi badan dan berat badan. Selama bertahun-tahun bersamanya, ini adalah hal yang baru kami lakukan. Ada ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak lain juga yang berobat. Menunggu tentu saja bukan pekerjaan yang menyenangkan.

Akhirnya namanya dipanggil oleh dr. Agus dan kamipun masuk ke ruang periksa. Dokter berwajah tampan ini mungkin berusia akhir 30-an atau awal 40-an. Tingginya sekiar 175 centi meter. Wajahnya oval cenderung bulat, bersih bercahaya dengan pembawaan yang berwibawa.

Dengan seksama dr. Agus mengecek detak jantung dan nafas, bagian-bagian perut jika ada yang nyeri. Mengecek mata, telinga dan mulut. Menelisik gejala dan keluhannya. Dokter yang memberikan rasa percaya bahwa ia sedang melakukan tugasnya. Namun tampak di wajahnya, ia tidak punya bayangan mengenai masalah kesehatan ini. Ia menyarankan untuk melakukan pengecekan darah. Pemeriksaan selesai, kami dikirim ke laboratorium dan ia pasrah ditusuk untuk mendapatkan sampel. Sekitar satu jam kami menunggu di cafetaria di lantai atas klinik. Saya memesan sebotol minuman elektrolit dan ia memesan roti lapis ikan tuna dan es teh.

Kami bertemu kembali dengan dr. Agus, kali ini wajahnya agak berbeda. Ia menyatakan bahwa kami perlu konsul ke dokter spesialis karena kadar hemoglobin di darahnya 5.5. Kebetulan dokter spesialis hematologi sering sekali mengantri panjang, dokter ini menjanjikan akan membantu membuatkan janji. Lalu ia menanyakan apakah ada pendarahan pada saat buang air kecil maupun buang air besar. Apakah si dia ingat ada pendarahan lain, misalnya muntah darah. Tetapi tidak ada yang diketahuinya. Kamipun diminta menunggu untuk melakukan penelitian selanjutnya.

dr. Agus mengajak seorang dokter senior, dr. Herbeth, yang diidentifikasi berlogat Afrika Selatan. Dokter berbadan tegap, rambut coklat lurus dan mata tajam. Menyatakan ini kondisi kritis dan meyakinkan si dia harus dirawat di rumah sakit. Sebagai orang yang tidak pernah dirawat di rumah sakit, tentu saja kami merasa tidak perlu. Maka kami menanyakan jika ada pengobatan yang mamungkinkan meningkatkan hemoglobin. Memang ada makanan dan obat-obatan yang dapat meningkatkannya. Namun 5.5 adalah level yang sudah membahayakan jiwa, jalan keluarnya hanya satu transfusi darah.

SOS Medika Klinik membuatkan surat pengantar yang ditujukan kepada dr. Toman L. Toruan, seorang oncologist. Para dokter menyimpulkan hal yang mengkhawatirkan dari angka-angka yang berasal dari pengecekan darah. Selasa malam, kami harus menginap di rumah sakit MRCCC Siloam Semanggi.

Hampir dua jam perjalanan karena macet dari Kemang ke Semanggi, ditambah lebih dari setengah jam mengurus di counter check in, kami pun menunggu penanganan di unit gawat darurat. Seorang paramedik pria dan dr. Erick melakukan pengecekan dengan seksama, kamipun diantar menuju kamar 3511, si dia diminta duduk di kursi roda dan seorang petugas membawanya.

Dokter keempat yang datang mengecek kami adalah dr. Lucy, ia dokter jaga malam itu. Ia menanyakan hal-hal yang sama seperti sebelumnya. Malam itu kami harus setuju dilakukannya tranfusi darah. Malam yang panjang, tiga labu hemoglobin A+ dialirkan ke tubuh yang tampak lemah tak berdaya. Keesokan paginya dr. Susan mengecek dan ia mengatakan bahwa dr. Ralph akan memeriksa lebih lanjut siang ini.

Pengecekan lebih lanjut disarankan oleh dr. Ralph, pada hari Rabu pagi USG abdomen, hari Kamis colonoscopy dan malamnya CT Scan. Sayangnya kami tidak mendapatkan penjelasan yang lebih jelas mengenai hasil ke empatnya. Yang pasti colonoscopy tidak dapat dilanjutkan karena ada tumor yang menghalangi di dinding usus besar. Sehubungan ada rencana shooting pada 17 Desember, kami mempertimbangkan untuk melakukan operasi Kamis depan, setelah komitmen pekerjaan dilakukan. Dokter tidak keberatan, selama pasien merasa fit, hemoglobin stabil, bisa saja menunda jadwal operasi sambil menunggu hasil biopsi yang biasanya memakan waktu 4-5 hari kerja.

Pada Kamis malam, saya bertemu dr. Wifanto yang berencana melakukan pembedahan. Dokter bedah senior ini ramah dan berwibawa. Karena kesibukan yang padat dr. Wifanto kadang datang berkunjung tengah malam, begitu para juru rawat bercerita. dr. Wifanto ingin menjadwalkan operasi pada hari Minggu. Tetapi kami masih memikirkan untuk menundanya.

Pada Jumat pagi, klien berkabar bahwa shooting tanggal 17 Desember ditunda sampai Januari 2015. Hal ini dikarenan pembangunan “enterainment room” yang akan menjadi salah satu fokus video, belum selesai dibangun. Sepertinya semesta bekerja bersama para dokter untuk membuat operasi dilakukan secepatnya. Siangnya, dr. Toman L. Toruan datang berkunjung. Ia baru saja kembali dari konferensi di Amerika. Dokter onkologis ini merencanakan jadwal secepatnya, dan kamipun sepakat. Sungguh minggu yang padat, pertemuan dengan para dokter… Sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan….!

GP-Hospital

Bunuh Diri

Sampai setua ini… Saya akhirnya menyimpulkan dua hal yang kita “tidak boleh” dalam menjalani hidup ini, pertama kita tidak boleh kehilangan harapan, kedua kita tidak boleh berhenti mencoba.

Ada yang tidak setuju? Oh, boleh saja… Ini-kan cara saya menjalani hidup ini. Orang lain boleh saja tidak setuju. Misalnya ada seorang yang pernah saya kenal. Ia melakukan percobaan bunuh diri, tidak tanggung-tanggung, menggunakan piring dan menyayat nadinya. Kenapa ia melakukan itu? Saya tidak pernah berani membahasnya dengan yang bersangkutan secara langsung. Tentu saja karena ini hal sensitif. Apakah akibat tindakan percobaan bunuh diri ini, tentu pihak yang menemukan panik dan berusaha menyelamatkannya.

Apa sih bunuh diri itu? Menurut Sakinofsky, “bunuh diri” atau “suicide” adalah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri sering dilakukan sebagai akibat putus asa, penyebabnya juga yang sering dikaitkan gangguan mental seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan emosi tidak stabil, kecanduan alkohol dan penyalahgunaan obat. Faktor-faktor lainnya yang berperan antara lain tekanan seperti kesulitan keuangan atau kesulitan dalam hubungan inter-personal. Pencegahan atas upaya bunuh diri bisa dengan membatasi akses/jangkauan pada senjata api, terapi pada gangguan jiwa dan penyalahgunaan obat-obatan, dan perbaikan situasi ekonomi. Meskipun terdapat banyak layanan hotline/krisis tersedia, namun sedikit sekali bukti bahwa fasilitas tersebut berfungsi secara efektif.

Kalau ada di sekitar teman-teman yang mengetahui ada upaya bunuh diri mungkin harus mempelajari upaya pencegahan bunuh diri.

Namun, kembali ke pendapat saya di awal, jika kita tidak pernah kehilangan harapan dan tidak pernah berhenti untuk mencoba, niscaya – tidak ada terbersit niat untuk bunuh diri. Karena teman hidup ini indah 🙂

Enaliya-Create-a-Beautiful-Life

Burning the Bridges

enaliya-burning-bridges

Tinggalkan yang lama, mulai yang baru 🙂 demikian sederhananya petuah ini. Tentu saja banyak juga ajaran yang meminta menjunjung tinggi hal-hal lama, hal-hal yang diturunkan, hal-hal yang telah ada, silaturahmi dan lain sebagainya. Namun dalam situasi tertentu kebaruan adalah lebih baik.

Seorang sahabat mengambil analogi tradisi bakar tongkang di Bagan Siapiapi, Riau. Konon bermula ketika para pendatang Tiongkok yang terdampar di daerah Rokan, sang kapten akhirnya memutuskan untuk membakar bagan (perahu-perahu) mereka supaya rakyatnya tidak ada lagi keinginan untuk kembali lagi ke negeri asalnya. Mereka dipaksa untuk “move on” di tempat barunya. Meskipun pada saat itu kondisi di daerah baru sangat sulit (namanya juga memulai) dan ditambah terjadi wabah berbagai penyakit. Perahu yang terbakar menggambarkan hubungan dengan tanah asal, menguatkan tekad dalam hati untuk tidak kembali. Tanah yang dipijak menjadi tanah yang penuh harapan.

Sedangkan Urban Dictiornary, menjelaskan – burning the bridge – cut off all ties in a relationship when you burn a bridge you can’t cross it again. To burn a bridge means to be completely done with something.

Selesai sudah. Tak perlu lagi dilanjutkan, done is done. Dalam hidup ada hal yang kemudian kita perlu memutuskan, demi kebaikan kita sendiri. Dan bisa jadi demi kebaikan yang bersangkutan. Pada akhirnya, mungkin sudah begitu seharusnya jalan hidup membawa kita.