Melarung

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “larung” berarti peti mayat yang tidak berdasar. Sedangkan “melarung” berarti membiarkan hanyut atau menghanyutkan. Setelah proses kremasi pada 30 November 2015, saya membawa pulang 2 buah guci yang berisi abu badan dan sebuah kantong kain yang berisi abu peti dan serpihan tulang. Menurut manajer kremasi di Oasis Lestari, umumnya abu peti dan serpihan tulang tidak disimpan, tetapi dilarung ke lautan, misalnya Tanjung Pasir atau  Ancol.

Maka pada Sabtu pagi, 23 Januari 2016, bersama keluarga Dedi Maryadi (Ibu Cici Riesmasari, Cakra & Tari), Mas Jon dan Bevita, aku berangkat ke Pelabuhan Ratu.  Berhubung kesiangan kami bertemu dengan macet, seperti biasa pasar yang tumpah ke jalanan. Melewati Cikidang sudah tengah hari, Cakra muntah-muntah dan kami memutuskan untuk berhenti. Menyantap mie goreng dan mie rebus khas jalanan Indonesia.

Tiba di Pelabuhan Ratu, tempat bertemu dengan teman Pak Dedi adalah Cimaja Square. Cafe dan pemondokan ini konon milik artis Bucek, dan memang tampak ia duduk bersama seseorang di satu sisi. Ibundanya dengan ramah-tamah menyapa ketika kami tiba.

Sambil menunggu teman Pak Dedi yang akan membantu menyewakan perahu, kami mengecek kamar. Menuju pondok (cottage) kami harus berjalan cukup jauh melewati perkampungan. Pondok tersebut tidak terlalu luas, ruangan bawah hanya berisi satu sofa dan dapur kecil, sedangkan kamar di lantai atas. Ini bukan pondok yang cocok untuk 5 orang dewasa dan 2 anak balita.  Maka kami memutuskan untuk mengecek tempat lain.

Sebelum hari semakin sore, kami menuju pantai Sunset dimana perahu bersandar. Awalnya hujan turun sehingga kami harus berteduh. Tak lama hujan reda dan kami bertiga (aku, Cici dan Bevi) ikut dengan para tukang perahu. Ombak tidak terlalu tinggi, perlahan kami menjauh dari daratan dan tiba di tengah untuk melarung. Kuucapkan selamat tinggal sekali lagi…

melarung abu peti Gary di Pelabuhan Ratu

Minggu Kedua 2016

Hari ke-11 2016, waktunya menghadapi kenyataan, kupacu sepeda motor bertemu Mbak Puji Hastutik yang bersedia menemaniku ke Kantor Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jakarta Selatan. Hari ini aku akan mengurus pembuatan Akta Kematian Gary. Lobby kantor Sudin Dukcapil ramai orang dengan berbagai keperluan, membuat KTP, akta kelahiran, kematian, mengurus pernikahan dan perceraian. Kami menyiapkan persyaratan sesuai dengan informasi di layar visual. Tukang fotokopi terdekat tutup, maka terpaksa mencari ke arah Pasar Mayestik. Setelah dokumen siap, aku mengambil nomor antrian dan menunggu. Tiba nomor dipanggil, seperti biasa, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata untuk Warga Negara Asing dilakukan di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI. Alatnya di Jl. S. Parman No.7 Jakarta Barat. Telp. 021-566 2296.

Hari ke-12 2016, adikku bersedia mengantar ke Grogol dan kamipun berangkat ke sana pagi-pagi. Ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi sehingga aku harus kembali lagi kesana keesokan harinya. Dari kantor Dinas Dukcapil aku minta diantar ke rumah sakit untuk mengurus klaim asuransi. Sampai di rumah hujan lebat sekali… Kami makan siang bersama dan adikku kembali ke Cikarang sebelum macet menjelang.

Hari Ke-13 2016, untuk kedua kalinya ke kantor Dinas Dukcapil untuk melengkapi surat-surat. Pulang ke rumah naik busway karena adikku haru ke kantor dan meeting dengan klien. Berjalan dari halte busway Duren Tiga ke Kemang Utara. Lumayan hari ini cukup olah raga.

Hari ke-14 2016, menyiapkan laporan pajak Bulan Desember 2015, namun sepertinya sudah terlalu siang untuk menuju Tebet. Main-main ke kantor Nirwana dan membicarakan kemungkinan venture dan bekerja dengan klien baru. Makan siang di Gourmet Garage dengan Erni & Chris Breckwoldt.

Hari ke-15 2016, ke kantor pajak di Tebet dilanjut ke Traffic Management Center (TMC) Keliling Kalibata yang melayani pembayaran pajak dan perpanjangan STNK. Antrian lumayan panjang tapi masih bisa selesai dan kembali ke rumah sebelum pk 10.00. Urusan satu-satu diselesaikan 🙂

12400867_10153769641212324_1392190196906886115_n

Minggu Pertama 2016

Malam pergantian tahun dari 2015 ke 2016 aku bersama-sama dengan 3 orang teman. Mereka setuju untuk datang ke rumah dan menginap. Yay! Kami berempat duduk seputar meja ngobrol ngalor-ngidul. Hidangan salad dan pasta ditemani beer dan wine, ditambah cheese cake dan chocolate cake. Pergantian sore dan tengah malam terasa begitu cepat. Tepat pukul 24.00 kembang api bermunculan, pintu depan dibuka dan terasa begitu dekat.

IMG_0295

Hari pertama 2016, kami menuju Cimanggis mengunjungi seorang teman. Terakhir aku berkunjung ke rumahnya pada Desember 2013. Hari yang menyenangkan dan kami kembali ke Jakarta ketika hari sudah gelap. Singgah makan makan malam tahu tek telur di Pasar Minggu.

Hari kedua 2016, teman yang menginap sudah pulang, rumah terasa lengang. Aku coba mencari kesibukan… Sore hari hujan lebat dan jalanan digenangi air. Kilat gemerlap dan geluduk terdengar di kejauhan. Kupanggil Gary dan menanyakan apakah dia masih disini. Aku mau dia tahu bahwa aku sudah merelakannya, tetapi aku juga terus merindukannya.

Sore hari Nadira menelpon, Chris Botting seorang teman dari Inggris terkena serangan jantung dan berpulang. Ada gathering di Eastern Promise untuk mengenangnya. Rob dan Nadira akan menjemputku dan senang bertemu dengan teman-teman Gary. Sebagian teman yang baru sempat bertemu lagi setelah Gary berpulang juga menyampaikan bela sungkawa.

Hari ketiga 2016, aku memutuskan menjumpai Lidia yang lari pagi di Taman Tebet. Iming-iming lari kali ini adalah jajanan bubur Manado. Okay! Lari dua keliling cukup, lanjut minum jus, makan bubur Manado, dan ngemil kue cubit. Pagi menjelang siang, pulang ke rumah naik busway, singgah di pasar membeli ikan untuk Roscoe.

Sorenya, Bevi mengajak makan malam di Cilandak Town Square. Sepulang dia dari gereja untuk misa sore kami bertemu. Aku mengendarai sepeda motor. Diam-diam aku menikmati mengendarai sepeda motor. Merasakan angin menerpa wajahku dan menikmati jalanan yang lengang. Malam datang dan aku menjemput kesendirian di rumah yang lengang.

Hari keempat 2016, aku mulai mengerjakan pekerjaan administrasi baik PT. Direct Media maupun PT. Network Multimedia. Mbak Puji kawan lama di Terre des Hommes Netherlands datang berkunjung, menjadi selingan pekerjaan yang cukup membosankan. Sore harinya, Eeng – Video Editor datang untuk menyelesaikan revisi terakhir video pengantar Borobudur, Prambanan dan Keraton Ratu Boko.

Hari kelima 2016, Wiendy dan Yuli datang ke rumah. Mengerjakan beberapa dokumen, walaupun agak susah, karena otak sudah tidak tune-in pada hal tersebut. Bahan-bahan yang sudah lewat setahun. Aku sendiri tidak yakin, apakah harus terlibat dalam proses politik (lagi)? Tapi, kalau bukan kita, siapa? (cie, cieeeee)

Hari keenam 2016, seharian di rumah, sore-sore menengok Kitaro dan mengajaknya berjalan-jalan 🙂

Hari ketujuh 2016, seharian di rumah, sorenya pergi menonton Ip Man, bersama Dina, Mas Lutfi dan Lidia. Mas Lutfi sekarang hobinya menyajikan kopi dengan berbagai cara. Sekali-kali harus dimampiri rumah Cileungsi nih 😉

Hari kedelapan 2016, urusan dokumen dengan Pak RT di Otista selesai. Adikku sayang mengantarku, seperti biasa dia mengantarku… Handover dokumen-dokumen lama dan menyerahkan urusan admin yang aku sudah tidak tertarik lagi mengerjakan. Bertemu dengan Deputy 1 Barekraf, perkenalan pertama… Semoga bisa membuka jalan kerja sama…