All posts by Enaliya

writer, editor, translator and graphic designer

Burning the Bridges

enaliya-burning-bridges

Tinggalkan yang lama, mulai yang baru 🙂 demikian sederhananya petuah ini. Tentu saja banyak juga ajaran yang meminta menjunjung tinggi hal-hal lama, hal-hal yang diturunkan, hal-hal yang telah ada, silaturahmi dan lain sebagainya. Namun dalam situasi tertentu kebaruan adalah lebih baik.

Seorang sahabat mengambil analogi tradisi bakar tongkang di Bagan Siapiapi, Riau. Konon bermula ketika para pendatang Tiongkok yang terdampar di daerah Rokan, sang kapten akhirnya memutuskan untuk membakar bagan (perahu-perahu) mereka supaya rakyatnya tidak ada lagi keinginan untuk kembali lagi ke negeri asalnya. Mereka dipaksa untuk “move on” di tempat barunya. Meskipun pada saat itu kondisi di daerah baru sangat sulit (namanya juga memulai) dan ditambah terjadi wabah berbagai penyakit. Perahu yang terbakar menggambarkan hubungan dengan tanah asal, menguatkan tekad dalam hati untuk tidak kembali. Tanah yang dipijak menjadi tanah yang penuh harapan.

Sedangkan Urban Dictiornary, menjelaskan – burning the bridge – cut off all ties in a relationship when you burn a bridge you can’t cross it again. To burn a bridge means to be completely done with something.

Selesai sudah. Tak perlu lagi dilanjutkan, done is done. Dalam hidup ada hal yang kemudian kita perlu memutuskan, demi kebaikan kita sendiri. Dan bisa jadi demi kebaikan yang bersangkutan. Pada akhirnya, mungkin sudah begitu seharusnya jalan hidup membawa kita.

Jakarta Brief History

Jakarta’s recorded history dates from about 400 AD when it was a Hindu port settlement called Sunda Pura (Holy Town), under the ancient Indianized kingdom of Tarumanagara. By 700 AD it had become part of the vast Hindu Sunda Kingdom. In the 12th century, the area was known as Sunda Kelapa and served as Java’s main harbor for Asian and Middle Eastern traders. The Portuguese arrived in 1512 and a decade later reached a trading deal with the Sunda Kingdom to provide military assistance against the threat of Islamic Javanese. On June 22, 1527, Muslim leader Fatahillah conquered the area and renamed it Djaja Karta, signifying his “glorious victory” over the Portuguese colonists and the Sundanese Hindus – most of whom were massacred. June 22 is now celebrated as Jakarta’s anniversary.

The Dutch seized power in 1619 by destroying Djaja Karta, which was rebuilt and renamed Batavia, becoming the centre of political and economic activity. The city grew, with neighborhoods of Chinese, Indian Muslims and ethnic groups from throughout the archipelago. In 1699, much of Batavia was devastated by an earthquake. In 1740, simmering Chinese resentment against discriminatory Dutch policies prompted a rebellion. The Dutch responded by massacring most of the approximately 11,000 Chinese residents. This ethnic cleansing of the city’s mercantile class caused a recession, overcome only when more Chinese came to make money. By the early 1800s, the so-called “Queen of the East” had become polluted, overcrowded and disease-ridden, prompting its administrators and many wealthier residents to move south.

In March 1942, the Dutch surrendered to the Japanese wartime occupation forces and the city was renamed Jakarta Tokubetsu Shi (Special Municipality of Jakarta). When Japan surrendered to the Allied forces in August 1945, Jakarta was to have become the new nation’s capital. But the Dutch occupied the city and refused to recognize Indonesian independence, so the capital was temporarily Yogyakarta, until the Dutch formally transferred sovereignty in December 1949 after four years of fighting.

The departure of the Dutch led to massive rural migration into Jakarta, which was seen as the center of economic opportunities. Founding president Sukarno ordered the construction of numerous statues and monuments, as well as hotels and other prestigious projects. The city’s slums spread as the nation shuddered toward near economic collapse in the early 1960s. After Sukarno was replaced by General Suharto in 1966, Jakarta had a new governor, Ali Sadikin, who in 11 years cleaned up much of the city, bulldozing slums, banning pedicabs, and improving public services and infrastructure. His projects were partly funded by legalized gambling – a policy later overturned by Islamic politicians.

In May 1998, Jakarta suffered three days of riots that left over 1,000 people dead and forced Suharto from power. The city was beset by a recession but has since rebounded with massive development and economic growth. Jakarta’s biggest challenges include traffic congestion, pollution and annual flooding.

Buku Catatan Moleskine

moleskine-enaliya

Sabtu, 12 Juli 2008, saya menemui seorang teman. Sedianya ia akan kembali ke negeri asalnya. Terkadang hidup membawa seseorang untuk tinggal di sebuah negeri, kemudian pada waktunya, ia pun harus kembali, meskipun yang bersangkutan tidak menginginkannya. Tadinya rencana makan siang itu hampir gagal. Sederhana saja alasannya, keberangkatannya ditunda untuk sementara.

Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Selalu ada pembicaraan yang menarik diantara kami. Makan siangnya tidak istimewa, tetapi obrolan kami, selalu istimewa. Selesai makan, kami memutuskan untuk melihat barang-barang. Ah! Kesenangan khas para perempuan, cuci mata melihat barang-barang. Baik di galeri yang menyatu dengan rumah makan itu, maupun di toko buku terdekat. Dan pembicaraan pun berlanjut. Teman saya, membeli beberapa barang, saya tidak memperhatikan betul.

“Tahukah kamu ini?” Tanyanya menunjuk pada buku catatan bersampul hitam. “Moleskine,” katanya.

Saya menggeleng. Lalu mulailah dia menceritakan Moleskine, buku catatan (notebook) legendaris yang konon selama dua abad terkahir digunakan oleh para maestro seperti Picasso, Matisse dan Hemingway. “Mulai saat ini, Buku Catatan Moleskine akan menemanimu, kemanapun kamu pergi,” katanya…

“Ada sebuah kesenangan tersendiri mengetahui bahwa mereka (para maestro itu) menggunakan notebook ini. Seperti sebuah tali yang menghubungkan kita dengan para penulis itu,” kata Fransesco Piccolo yang juga menggunakan Buku Catatan Moleskine berwana hitam. Novelis Itali ini merasa terhanyut dalam sebuah tradisi yang dibangun oleh penulis besar sekelas Ernest Hemingway dan Bruce Chatwin.

Sebagai seorang yang juga berusaha menjadi penulis, saya tidak pernah bermimpi sebesar itu. Sejauh ini, rasa bangga sering muncul perlahan ketika orang menyatakan menyukai tulisan saya. Saya tidak juga sedang berusaha menghanyutkan diri untuk melebur dalam tradisi para penulis besar.

Membaca kisah hidup mereka adalah sebuah keasyikan. Dan Buku Catatan Moleskine ini adalah sebuah pemberian yang memberikan harapa besar. Teman, buku ini akan aku gunakan. Sebagai pengingatan pada dirimu. Tahun depan saya berusaha menemui, dan mudah-mudahan dengan banyak karya. Dan harapan tentang orang-orang dalam Buku Catatan Moleskine, tidak sekedar harapan. Semoga.

Filosofi Asal-Asalan

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba aku teringat percakapan kakak-kakak kelasku waktu SMA (Sekolah Menengah Atas) yang sekarang menjadi SMU (Sekolah Menengah Umum). Kakak-kakak kelas, yang salah satunya kakak kandungku sendiri, pada suaru hari berkumpul, membicarakan filosofi asal-asalan. Katanya, hidup ini tidak perlu terlalu serius, hidup kita jalani dengan asal-asalan.

Misalnya dalam jangka pendek ini, mereka para murid kelas tiga akan menghadapi ujian akhir alias Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Nah, tidak perlu muluk-muluk untuk dapat nilai tinggi, asal lulus SMA, itu sudah bagus. Nanti, setelah itu asal masuk UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi). Setelah itu, asal kuliah lah… Setelah itu asal jadi sarjana dan asal kerja. Kalau umur sudah lumayan tua, asal menikah, supaya tidak kesepian. Nah kalau sudah tua, tidak perlu umur panjang, pas meninggal asal masuk surga…

Hah? aku tercengang sekaligus bingung juga dengan filosofi asal-asalan mereka itu. Mungkin mereka sudah lupa tentang pembicaraan itu. Kalau sepengetahuanku, kakak-kakak itu memang saat ini hampir mencapai semua “asal-asalan” mereka itu. Hampir semuanya sudah bekerja dan menikah. Memang tidak ada yang “wah” mencapai sebuah sukses yang mencengangkan, menjadi konglomerat dan sejenisnya. Tapi aku cukup bangga juga dengan kemampuan survive mereka. Boleh dikatakan, mereka lebih beruntung dari sebagian masyarakat kebanyakan. Nah, tinggal susah membuktikan “asal masuk surga”. Karena sampai sekarang belum ada yang mempunyai bukti-bukti nyata bahwa surga itu ada. Jadi, wallahualam bissawab….