Burning the Bridges

enaliya-burning-bridges

Tinggalkan yang lama, mulai yang baru 🙂 demikian sederhananya petuah ini. Tentu saja banyak juga ajaran yang meminta menjunjung tinggi hal-hal lama, hal-hal yang diturunkan, hal-hal yang telah ada, silaturahmi dan lain sebagainya. Namun dalam situasi tertentu kebaruan adalah lebih baik.

Seorang sahabat mengambil analogi tradisi bakar tongkang di Bagan Siapiapi, Riau. Konon bermula ketika para pendatang Tiongkok yang terdampar di daerah Rokan, sang kapten akhirnya memutuskan untuk membakar bagan (perahu-perahu) mereka supaya rakyatnya tidak ada lagi keinginan untuk kembali lagi ke negeri asalnya. Mereka dipaksa untuk “move on” di tempat barunya. Meskipun pada saat itu kondisi di daerah baru sangat sulit (namanya juga memulai) dan ditambah terjadi wabah berbagai penyakit. Perahu yang terbakar menggambarkan hubungan dengan tanah asal, menguatkan tekad dalam hati untuk tidak kembali. Tanah yang dipijak menjadi tanah yang penuh harapan.

Sedangkan Urban Dictiornary, menjelaskan – burning the bridge – cut off all ties in a relationship when you burn a bridge you can’t cross it again. To burn a bridge means to be completely done with something.

Selesai sudah. Tak perlu lagi dilanjutkan, done is done. Dalam hidup ada hal yang kemudian kita perlu memutuskan, demi kebaikan kita sendiri. Dan bisa jadi demi kebaikan yang bersangkutan. Pada akhirnya, mungkin sudah begitu seharusnya jalan hidup membawa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s